10/09/2013 Planet Informasi
Raden Mas Panji
Sosrokartono lahir di Mayong pada hari Rabu Pahing tanggal 10 April 1877 M.
Beliau adalah putera R.M. Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Semenjak
kecil beliau sudah mempunyai keistimewaan, beliau cerdas dan mempunyai
kemampuan membaca masa depan.
Kakak dari ibu kita
Kartini ini, setelah tamat dari Eropesche Lagere School di Jepara, melanjutkan
pendidikannya ke H.B.S. di Semarang. Pada tahun 1898 meneruskan sekolahnya ke
negeri Belanda. Mula-mula masuk di sekolah Teknik Tinggi di Leiden, tetapi
merasa tidak cocok, sehingga pindah ke Jurusan Bahasa dan Kesusastraan Timur.
Beliau merupakan mahasiswa Indonesia pertama yang meneruskan pendidikan ke
negeri Belanda, yang pada urutannya disusul oleh putera-putera Indonesia
lainnya.
Dengan menggenggam gelar
Docterandus in de Oostersche Talen dari Perguruan Tinggi Leiden, beliau
mengembara ke seluruh Eropa, menjelajahi pelbagai pekerjaan. Selama perang
dunia ke I, beliau bekerja sebagai wartawan perang pada Koran New York Herald
dan New York Herald Tribune. Kemudian, setelah perang usai, beliau menjadi
penerjemah di Wina, tapi beliau pindah lagi, bekerja sebagai ahli bahasa pada
kedutaan Perancis di Den Haag, dan akhirnya beliau hijrah ke Jenewa. Sebagai
sarjana yang menguasai 26 bahasa, beliau bekerja sebagai penerjemah untuk
kepentingan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa.
Sampai suatu ketika
terdengar berita tentang sakitnya seorang anak berumur ± 12 tahun. Anak itu
adalah anak dari kenalannya yang menderita sakit keras, yang tak kunjung sembuh
meki sudah diobati oleh beberapa dokter. Dengan dorongan hati yang penuh dengan
cinta kasih dan hasrat yang besar untuk meringankan penderitaan orang lain,
saat itu juga beliau menjenguk anak kenalannya yang sakit parah itu.
Sesampainya di sana, beliau langsung meletakkan tangannya di atas dahi anak itu
dan terjadilah sebuah keajaiban. Tiba-tiba si bocah yang sakit itu mulai
membaik dengan hitungan detik, dan hari itu juga ia pun sembuh.
Kejadian itu membuat
orang-orang yang tengah hadir di sana terheran-heran, termasuk juga
dokter-dokter yang telah gagal menyembuhkan penyakit anak itu. Setelah itu, ada
seorang ahli Psychiatrie dan Hypnose yang menjelaskan bahwa sebenarnya Drs.
R.M.P. Sosrokartono mempunyai daya pesoonalijke magneetisme yang besar
sekali yang tak disadari olehnya.
Mendengar penjelasan tersebut, akhirnya beliau merenungkan dirinya dan memutuskan menghentikan pekerjaannya di Jenewa dan pergi ke Paris untuk belajar Psychometrie dan Psychotecniek di sebuah perguruan tinggi di kota itu. Akan tetapi, karena beliau adalah lulusan Bahasa dan Sastra, maka di sana beliau hanya diterima sebagai toehoorder saja, sebab di Perguruan Tinggi tersebut secara khusus hanya disediakan untuk mahasiswa-mahasiswa lulusan medisch dokter.
Mendengar penjelasan tersebut, akhirnya beliau merenungkan dirinya dan memutuskan menghentikan pekerjaannya di Jenewa dan pergi ke Paris untuk belajar Psychometrie dan Psychotecniek di sebuah perguruan tinggi di kota itu. Akan tetapi, karena beliau adalah lulusan Bahasa dan Sastra, maka di sana beliau hanya diterima sebagai toehoorder saja, sebab di Perguruan Tinggi tersebut secara khusus hanya disediakan untuk mahasiswa-mahasiswa lulusan medisch dokter.
Beliau kecewa, karena di
sana beliau hanya dapat mengikuti mata kuliah yang sangat terbatas, tidak
sesuai dengan harapan beliau. Di sela-sela hati yang digendam kecewa, datanglah
ilham untuk kembali saja ke tanah airnya. Di tanah airnyalah beliau harus
mencurahkan segenap tenaga dan pikiran untuk mengabdikan diri kepada rakyat Indonesia.
Sesampainya di indonesia, beliau bertempat tinggal di Bandung, beliau menjadi
sang penolong sesama manusia yang menderita sakit jasmani maupun rohani.
Di Bandung, di
Dar-Oes-Salam-lah beliau mulai mengabdikan dirinya untuk kepentingan umat.
Beliau terkenal sebagai seorang paranormal yang cendekiawan di mana saja,
bahkan beliau pernah mendapat undangan Sultan Sumatera, Langkat. Di daerah
sanalah beliau mulai menampakkan kepribadiannya secara pasti, karena di sebuah
kerajaan beliau masih menunjukkan tradisi Jawanya, kerendah-hatiannya,
kesederhanaannya, tidak mau menikmati kemewahan, bahkan dalam beberapa hari di
tiap harinya beliau hanya makan dua buah cabe atau sebuah pisang.
Beliau tidak menikah,
tidak punya murid dan wakil.
Pada hari Jum’at Pahing,
tanggal 8 februari 1952 di rumah Jl. Pungkur No. 19 Bandung, yang terkenal
dengan sebutan Dar-Oes-Salam, Drs. R.M.P. Sosrokartono kembali ke Sang Pencipta
dengan tenang, tentram.
” Ing donya mung kebak
kangelan,
sing ora gelem kangelan aja ing donya. “
sing ora gelem kangelan aja ing donya. “
”
Di dunia penuh dengan kesusahan, yang tidak mau susah jangan di dunia. “
Mandor Klungsu
“… para Pangeran ingkang sesami rawuh perlu manggihi pun Klungsu, …”
“… para Pangeran ingkang sesami rawuh perlu manggihi pun Klungsu, …”
“… para pangeran yang
berdatangan perlu menemui si Klungsu, …”
“Salam alaikum, Kula pun
Mandor Klungsu.”
“Salam alaikum, Saya si
Mandor Klungsu.”
“Taklimi pun Mandhor …
Pak Klungsu.”
“Taklimnya Mandhor … Pak
Klungsu.”
“Salam taklimipun lan
padonganipun. Pak Klungsu.”
“Salam taklimnya dan
do’anya. Pak Klungsu.”
Kutipan- kutipan di atas
menunjukkan bahwa Drs. R.M.P. Sosrokartono menyebut dirinya sebagai “Mandor
Klungsu”.
Klungsu artinya biji
asam, bentuknya kecil tapi keras (kuat) yang ketika ditanam dan dirawat
sebaik-baiknya, maka akan menjelma sebuah pohon yang besar-kekar, berdaun
rimbun dan berbuah lebat.
Bukan sekedar biji buah
asam, melainkan kepala/pimpinannya.
Pohon asam mulai dari
pohon sampai bijinya, semua dapat dimanfaatkan. Selain itu, mempunyai sifat
kokoh dan tegar.
Ketika melihat kiprahnya
sehari-hari, maka beliau hanya seorang Mandor, Mandor Klungsu, yang harus
menjalankan perintah Sang Pimpinan (Tuhan), serta mempertanggungjawabkan semua
karyanya selama itu kepada Tuhannya.
“Kula dermi ngelampahi
kemawon.”
Maksudnya, “Saya hanya
menjalankan saja.”
“Namung madosi barang
ingkang sae, sedaya kula sumanggaken dhateng Gusti.”
Maksudnya, “Saya hanya
mencari sesuatu yang baik, semuanya saya serahkan kepada Tuhan.”
“Kula saged nindhakaken
ibadat inggih punika kuwajiban bakti lan suwita kula dhateng sesami.”
Maksudnya, “Saya bisa
menjalankan ibadah, yaitu kewajiban berbakti dan pengabdian saya kepada
sesama.”
Jaka Pring
“… Nyuwun pangestunipun
para sedherek dhumateng pun Djoko Pring.”
“… mohon do’a restunya
saudara-saudara untuk si Jaka Pring.”
“Saking Ulun, Djoko
Pring.”
“Dari saya, Jaka Pring.”
Selain untuk dijadikan
nama, Drs. R.M.P Sosrokartono juga pernah menuliskannya sebagai berikut:
“Pring padha pring
Weruh padha weruh
Eling tanpa nyanding.”
Artinya, “Bambu
sama-sama bambu, tahu sama-sama tahu, ingat tanpa mendekat.”
Versi lain berbunyi:
“Susah padha susah;
seneng padha seneng; eling padha eling; pring padha pring.”
Artinya, “Susah
sama-sama susah; senang sama-sama senang; ingat sama-sama ingat; bambu sama-
sama bambu.”
Jaka adalah
jejaka/laki-laki yang belum (tidak) menikah dan Pring adalah bambu.
Pohon bambu adalah pohon yang sekujur tubuhnya dapat dimanfaatkan oleh siapa saja yang berkepentingan dengannya. Pohon Bambu dapat dimanfaatkan untuk membuat rumah, mulai dari tiang, atap, dinding, pagar, sampai atap-atapnya. Bukankah orang-orang dahulu menjadikan daun bambu sebagai genteng rumah mereka? Ranting-rantingnya dapat dijadikan kayu bakar atau pagar. Bambu dapat digunakan untuk membuat balai-balai, sangkar, keranjang, tempayan, tembikar, kursi, dll. Cikal bakal dari pohon bambu dapat dimanfaatkan untuk sayur/dimakan. Yang jelas, semuanya dapat dimanfaatkan, semuanya dapat difungsikan atau dibutuhkan sesuai kehendak orang yang bersangkutan.
Pohon bambu adalah pohon yang sekujur tubuhnya dapat dimanfaatkan oleh siapa saja yang berkepentingan dengannya. Pohon Bambu dapat dimanfaatkan untuk membuat rumah, mulai dari tiang, atap, dinding, pagar, sampai atap-atapnya. Bukankah orang-orang dahulu menjadikan daun bambu sebagai genteng rumah mereka? Ranting-rantingnya dapat dijadikan kayu bakar atau pagar. Bambu dapat digunakan untuk membuat balai-balai, sangkar, keranjang, tempayan, tembikar, kursi, dll. Cikal bakal dari pohon bambu dapat dimanfaatkan untuk sayur/dimakan. Yang jelas, semuanya dapat dimanfaatkan, semuanya dapat difungsikan atau dibutuhkan sesuai kehendak orang yang bersangkutan.
Satu hal lagi, jenis
bambu itu bermacam-macam. Sesuai dengan hajat seseorang dalam memfungsikan
bambu, maka ia mempunyai pilihan terhadap jenis bambu yang mana ia butuhkan.
Apakah bambu pethung, bambu ori, bambu wuluh, bambu apus
dan lain sebagainya.
Kutipan di atas juga
mengutarakan bahwa, apapun jenis kita, bangsa kita, agama kita, ras, warna
kulit, perbedaan bahasa dan suku kita, kita tetap sama, sama-sama tahu,
sama-sama manusia.
Apapun jenis, warna dan bentuknya bambu, tetap bambu. Tak ada perbedaan, semua sama belaka. Manusia yang satu dengan manusia yang lain adalah sama. Seperti ketika beliau melakukan perjalanan ke luar Jawa, kemudian beliau bertemu oleh sekian jenis manusia dengan status sosial yang berbeda. Bagi beliau, semua manusia disejajarkan. Sikap egalitarisme tetap dijaga dan dilestarikan.
Apapun jenis, warna dan bentuknya bambu, tetap bambu. Tak ada perbedaan, semua sama belaka. Manusia yang satu dengan manusia yang lain adalah sama. Seperti ketika beliau melakukan perjalanan ke luar Jawa, kemudian beliau bertemu oleh sekian jenis manusia dengan status sosial yang berbeda. Bagi beliau, semua manusia disejajarkan. Sikap egalitarisme tetap dijaga dan dilestarikan.
Dalam kondisi dan
situasi bagaimanapun dan di manapun, ingat akan keterciptaan, teringat akan
sesama, saling mengingatkan dan ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa, Yang Maha
Pemurah. Ketika manusia itu ingat kepada Tuhannya, maka Tuhanpun akan ingat
kepadanya.
Guru Sejati
“Murid, gurune pribadi
Guru, muride pribadi
Pamulangane, sengsarane
sesami
Ganjarane, ayu lan arume
sesami.”
Artinya, “Murid gurunya
diri pribadi. Guru, muridnya diri pribadi. Tempat belajarnya/pelajarannya,
penderitaan sesama. Balasannya, kebaikan dan keharuman sesama.”
Untaian itu mengandung
pengertian bahwa sesungguhnya dalam diri seseorang terdapat seorang guru dan
diri seseorang itu sendiri menjadi murid, murid dari guru sejati.
Sebab, pada intinya, segala bentuk ilmu dan pengetahuan itu hanya datang dari Tuhan, karena guru selain Tuhan itu hanya sebagai perantara belaka.
Sebab, pada intinya, segala bentuk ilmu dan pengetahuan itu hanya datang dari Tuhan, karena guru selain Tuhan itu hanya sebagai perantara belaka.
“Sinau ngarosake lan
nyumerepi tunggalipun manungsa, tunggalipun rasa, tunggalipun asal lan
maksudipun agesang.”
Artinya, “Perlu belajar
ikut merasakan dan mengetahui bahwa manusia itu satu, rasa itu satu, berasal
dari tempat yang sama, dan belajar memahami arti dari tujuan hidup.”
“Tansah anglampahi dados
muriding agesang.”
Artinya, “Selalu
menjalani jadi murid kehidupan/sesama hidup.”
Kehidupan itulah sang
guru, karena kehidupan itu juga mengajarkan kepada kita.
Sang Alif
“… Ping kalihipun perlu
babat lan ngatur papan kangge masang Alif. (Masang Alif punika inggih kedah
mawi sarana lampah. Boten kenging kok lajeng dipun canthelaken kemawon, lajeng
dipun tilar kados mepe rasukan).”
Artinya, “Yang keduanya
perlu membuka dan mengatur tempat untuk memasang Alif. (Memasang Alif itu harus
dengan sarana penghayatan. Tidak boleh hanya dicantolkan begitu saja, lalu
ditinggal layaknya menjemur pakaian.)
“Ngawula dateng
kawulaning Gusti lan memayu ayuning urip, …”
Maksudnya adalah
mengabdi kepada abdinya Tuhan dan memperbaiki keindahan hidup.
Diungkapkan bahwa Drs.
R.M.P. Sosrokartono memiliki tiga buah Alif, yaitu :
- Sang Alif warna hitam, dengan dasar putih.
- Sang Alif warna putih, dengan dasar biru muda.
- Sand Alif warna putih, dengan dasar merah.
Ketika melayani dan
mengobati orang-orang yang sakit, Drs. R.M.P. Sosrokartono selalu berdiri.
Beilau kuat sekali berdiri berjam-jam atau berhari-hari. Setelah mengobati
orang-orang sampai pukul 12 malam, Dar-Oes-Salam ditutup. Namun beliau tidak
langsung tidur, beliau seringkali bermain catur sampai jam 3, 4 pagi, itupun
beliau lakukan sambil berdiri.
3 komentar :
Keren nih. Tapi copas ya??
gak sih cma cariiiii ahahahaha
keren.
Posting Komentar