welcome to wenes's blog enjoyed my blog expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Jumat, 30 Januari 2015

foto" mereka color:#FF6699;background:url(http://dl6.glitter-graphics.net/pub/590/590966tdltan40f8.gif);background-repeat:repeat;text-decoration:underline; :hover>






ini aktifitas shaheer dan dewi" saat di india ...........
#selfieterussssss...............

soundtrack film dil to pagal hai color:#FF6699;background:url(http://dl6.glitter-graphics.net/pub/590/590966tdltan40f8.gif);background-repeat:repeat;text-decoration:underline; :hover>




     Are Re Are Lyrics 
--MALE--
Ahahahaha 

--FEMALE--

Movie: Dil To Pagal Hai (1997)
Cast: Shahrukh Khan, Madhuri Dixit, Karishma Kapoor, Akshay Kumar
Music Director: Preeti Uttam Singh
Lyrics: Anand Bakshi
Singer(s): Lata Mangeshkar, Udit Narayan
Rurururururu

--MALE--

Ahahahahaha

--FEMALE--

Rurururu Lalalalal lalalala ..

Are re are yeh kya hua Maine na yeh jaana

Oh sayang apa yang terjadi Aku  benar-benar tidak tahu

Are re are ban jaaye na Kahin koi afsaana

Cukup jangan sampai giliran ini masuk dalam beberapa kisah cinta

--MALE--
Are re are kuch ho gaya Koi na pehchana
Oh sayang sesuatu telah terjadi tak seorang pun mengenalinya

Are re are banta hai toh Ban jaaye afsana

Tetapi jika ini sebuah romance maka biarlah 

Ahahaha...Ahahaha


--FEMALE--

Rurururururu

--MALE--

Ahahahahaha

--FEMALE--

Rurururururur

--MALE--
Haath mera thaam lo (hmm..) Saath jab tak ho (hmm..)
Peganglah tanganku selama kau berada disini

Baat kuch hoti rahe Baat jab tak ho

Mari kita terus berbicara selama kita bisa

Saamne baithe raho tum Raat jab tak ho..

Mari kita duduk di sini melihat satu sama lain

--FEMALE--

Are re are yeh kya hua Maine na yeh jaana
Oh sayang apa yang terjadi Aku  benar-benar tidak tahu

Naam kya de kya kahe (Aa..) Dil ke mausam ko (Aa..)

Apakah namaku bisa memberikan musim ini di hatiku

Aag jaise lag gayi Aaj shabnam ko

Bahkan embun tampaknya terbakar dengan demam di hatiku

Aisa lagta hai kisi ne Chhuliya humko

kenapa aku merasa seolah-olah seseorang telah mengutukku

--MALE--
Are re are yeh kya hua
Oh sayang apa yang terjadi

--FEMALE--

Maine na yeh jaana
Aku  benar-benar tidak tahu

--MALE--
Are re are ban jaaye na
Cukup jangan sampai ini menjadi berubah 

--FEMALE--

Kahin koi afsaana
Tidak ada kisah

Are re are kuch ho gaya

Oh sayang sesuatu telah terjadi

--MALE--
Koi na pehchana
Tak seorang pun mengenalinya

--FEMALE--

Are re are banta hai toh
Tetapi jika ini sebuah romance

--MALE--
Ban jaaye afsana
Biarlah kisah terjadi

--FEMALE--

Tum chale jaao zara (Aa..) Hum sambhal jaaye (Aa..)
Tolong pergi untuk sejenak biar aku dapat mengumpulkan perasaaku

Dhadkane dil ki kahin (Aa..) Na machal jaaye

Dan menenangkan detak kekerasan yang ada di hatiku

Waqt se aage kahin na Hum nikal jaaye

Mari kita memperlambat sehingga kita tidak bergerak maju terlalu cepat

--MALE--
Are re are kya hua Koi na pehchana
Oh sayang apa yang terjadi Tak seorang pun mengenalinya

Hum mein tum mein kuch to hai (hmm..) Kuch nahin hai kya (hmm..)
Ada sesuatu di antara kita jangan menyangkalnya

Aur kuch ho jaaye toh Kuch yakin hai kya

Dan jika sesuatu terjadi lebih memiliki keyakinan dalam perasaanmu

Dekh lo yeh dil jahaan tha Yeh wahin hai kya

Untukmu harus mengetahui hatimu kalo tidak bagaimana rasanya

--FEMALE--

Are re are yeh kya hua
Oh sayang apa yang terjadi 

--MALE--

Maine na yeh jaana
Aku  benar-benar tidak tahu

--FEMALE--

Are re are ban jaaye na
Cukup jangan sampai ini menjadi berubah 

--MALE--
Kahin koi afsaana
Tidak ada kisah

Are re are kuch ho gaya


Oh sayang sesuatu telah terjadi

--FEMALE--
Koi na pehchana
Tak seorang pun mengenalinya

--MALE--
Are re are banta hai to
Tetapi jika ini sebuah romance

--FEMALE--

Ban jaaye afsana
Biarlah kisah terjadi

--BOTH--
Lalalala lalalalala
Lalalala lalalalala

Kamis, 22 Januari 2015

lanjut lagi.......... color:#FF6699;background:url(http://dl6.glitter-graphics.net/pub/590/590966tdltan40f8.gif);background-repeat:repeat;text-decoration:underline; :hover>

Legenda Junjung Buih Ratu Penguasa Laut Lokasi Jatuhnya AirAsia QZ 8501Proses pencarian badan pesawat AirAsia QZ 8501 masih terus berlanjut. Pencarian pesawat yang jatuh minggu lalu itu dilakukan oleh segenap profesional dari manca negara juga. Segala peralatan canggih telah dikerahkan, sayang sampai minggu kedua pencarian masih belum maksimal dikarenakan faktor cuaca.
Akhirnya, cara gaib pun diterapkan. Sejumlah tokoh adat dan paranormal setempat diundang untuk membantu proses pencarian pesawat naas tersebut. Kemudian, muncul cerita rakyat setempat tentang ratu penguasa laut tempat jatuhnya AirAsia QZ 8501 yang diduga menjadi salah satu penyebab mistis pesawat itu jatuh.
Dilansir melalui merdeka.com, menyebutkan bahwa salah satu tokoh adat Kalimantan, Gusti Kadran, berniat membantu proses pencarian AirAsia QZ 8501 yang jatuh di Selat Karimata dengan mendatangi Lanud Iskandar Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Ceritanya, selat Karimata terkenal angker yang dipimpin oleh ratu penguasa laut itu bernama Ratu Junjung Buih.

cantik" .. & ganteng....... color:#FF6699;background:url(http://dl6.glitter-graphics.net/pub/590/590966tdltan40f8.gif);background-repeat:repeat;text-decoration:underline; :hover>



duh cantiknya yang dua kyak bidadari yg 1 pak pilot ganteng
wkwkwkwkwk..........
ini foto" mereka disela" kegiatan mereka...........'

Jaim GuuuuYYsss color:#FF6699;background:url(http://dl6.glitter-graphics.net/pub/590/590966tdltan40f8.gif);background-repeat:repeat;text-decoration:underline; :hover>


Sabtu, 17 Januari 2015



10/09/2013  Planet Informasi  
Raden Mas Panji Sosrokartono lahir di Mayong pada hari Rabu Pahing tanggal 10 April 1877 M. Beliau adalah putera R.M. Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Semenjak kecil beliau sudah mempunyai keistimewaan, beliau cerdas dan mempunyai kemampuan membaca masa depan.
Kakak dari ibu kita Kartini ini, setelah tamat dari Eropesche Lagere School di Jepara, melanjutkan pendidikannya ke H.B.S. di Semarang. Pada tahun 1898 meneruskan sekolahnya ke negeri Belanda. Mula-mula masuk di sekolah Teknik Tinggi di Leiden, tetapi merasa tidak cocok, sehingga pindah ke Jurusan Bahasa dan Kesusastraan Timur. Beliau merupakan mahasiswa Indonesia pertama yang meneruskan pendidikan ke negeri Belanda, yang pada urutannya disusul oleh putera-putera Indonesia lainnya.
Dengan menggenggam gelar Docterandus in de Oostersche Talen dari Perguruan Tinggi Leiden, beliau mengembara ke seluruh Eropa, menjelajahi pelbagai pekerjaan. Selama perang dunia ke I, beliau bekerja sebagai wartawan perang pada Koran New York Herald dan New York Herald Tribune. Kemudian, setelah perang usai, beliau menjadi penerjemah di Wina, tapi beliau pindah lagi, bekerja sebagai ahli bahasa pada kedutaan Perancis di Den Haag, dan akhirnya beliau hijrah ke Jenewa. Sebagai sarjana yang menguasai 26 bahasa, beliau bekerja sebagai penerjemah untuk kepentingan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa.
Sampai suatu ketika terdengar berita tentang sakitnya seorang anak berumur ± 12 tahun. Anak itu adalah anak dari kenalannya yang menderita sakit keras, yang tak kunjung sembuh meki sudah diobati oleh beberapa dokter. Dengan dorongan hati yang penuh dengan cinta kasih dan hasrat yang besar untuk meringankan penderitaan orang lain, saat itu juga beliau menjenguk anak kenalannya yang sakit parah itu. Sesampainya di sana, beliau langsung meletakkan tangannya di atas dahi anak itu dan terjadilah sebuah keajaiban. Tiba-tiba si bocah yang sakit itu mulai membaik dengan hitungan detik, dan hari itu juga ia pun sembuh.
Kejadian itu membuat orang-orang yang tengah hadir di sana terheran-heran, termasuk juga dokter-dokter yang telah gagal menyembuhkan penyakit anak itu. Setelah itu, ada seorang ahli Psychiatrie dan Hypnose yang menjelaskan bahwa sebenarnya Drs. R.M.P. Sosrokartono mempunyai daya pesoonalijke magneetisme yang besar sekali yang tak disadari olehnya.
Mendengar penjelasan tersebut, akhirnya beliau merenungkan dirinya dan memutuskan menghentikan pekerjaannya di Jenewa dan pergi ke Paris untuk belajar Psychometrie dan Psychotecniek di sebuah perguruan tinggi di kota itu. Akan tetapi, karena beliau adalah lulusan Bahasa dan Sastra, maka di sana beliau hanya diterima sebagai toehoorder saja, sebab di Perguruan Tinggi tersebut secara khusus hanya disediakan untuk mahasiswa-mahasiswa lulusan medisch dokter.
Beliau kecewa, karena di sana beliau hanya dapat mengikuti mata kuliah yang sangat terbatas, tidak sesuai dengan harapan beliau. Di sela-sela hati yang digendam kecewa, datanglah ilham untuk kembali saja ke tanah airnya. Di tanah airnyalah beliau harus mencurahkan segenap tenaga dan pikiran untuk mengabdikan diri kepada rakyat Indonesia. Sesampainya di indonesia, beliau bertempat tinggal di Bandung, beliau menjadi sang penolong sesama manusia yang menderita sakit jasmani maupun rohani.
Di Bandung, di Dar-Oes-Salam-lah beliau mulai mengabdikan dirinya untuk kepentingan umat. Beliau terkenal sebagai seorang paranormal yang cendekiawan di mana saja, bahkan beliau pernah mendapat undangan Sultan Sumatera, Langkat. Di daerah sanalah beliau mulai menampakkan kepribadiannya secara pasti, karena di sebuah kerajaan beliau masih menunjukkan tradisi Jawanya, kerendah-hatiannya, kesederhanaannya, tidak mau menikmati kemewahan, bahkan dalam beberapa hari di tiap harinya beliau hanya makan dua buah cabe atau sebuah pisang.
Beliau tidak menikah, tidak punya murid dan wakil.
Pada hari Jum’at Pahing, tanggal 8 februari 1952 di rumah Jl. Pungkur No. 19 Bandung, yang terkenal dengan sebutan Dar-Oes-Salam, Drs. R.M.P. Sosrokartono kembali ke Sang Pencipta dengan tenang, tentram.

” Ing donya mung kebak kangelan,
sing ora gelem kangelan aja ing donya. “
” Di dunia penuh dengan kesusahan, yang tidak mau susah jangan di dunia. “


Mandor Klungsu

“… para Pangeran ingkang sesami rawuh perlu manggihi pun Klungsu, …”
“… para pangeran yang berdatangan perlu menemui si Klungsu, …”
“Salam alaikum, Kula pun Mandor Klungsu.”
“Salam alaikum, Saya si Mandor Klungsu.”
“Taklimi pun Mandhor … Pak Klungsu.”
“Taklimnya Mandhor … Pak Klungsu.”
“Salam taklimipun lan padonganipun. Pak Klungsu.”
“Salam taklimnya dan do’anya. Pak Klungsu.”
Kutipan- kutipan di atas menunjukkan bahwa Drs. R.M.P. Sosrokartono menyebut dirinya sebagai “Mandor Klungsu”.
Klungsu artinya biji asam, bentuknya kecil tapi keras (kuat) yang ketika ditanam dan dirawat sebaik-baiknya, maka akan menjelma sebuah pohon yang besar-kekar, berdaun rimbun dan berbuah lebat.
Bukan sekedar biji buah asam, melainkan kepala/pimpinannya.
Pohon asam mulai dari pohon sampai bijinya, semua dapat dimanfaatkan. Selain itu, mempunyai sifat kokoh dan tegar.
Ketika melihat kiprahnya sehari-hari, maka beliau hanya seorang Mandor, Mandor Klungsu, yang harus menjalankan perintah Sang Pimpinan (Tuhan), serta mempertanggungjawabkan semua karyanya selama itu kepada Tuhannya.
“Kula dermi ngelampahi kemawon.”
Maksudnya, “Saya hanya menjalankan saja.”
“Namung madosi barang ingkang sae, sedaya kula sumanggaken dhateng Gusti.”
Maksudnya, “Saya hanya mencari sesuatu yang baik, semuanya saya serahkan kepada Tuhan.”
“Kula saged nindhakaken ibadat inggih punika kuwajiban bakti lan suwita kula dhateng sesami.”
Maksudnya, “Saya bisa menjalankan ibadah, yaitu kewajiban berbakti dan pengabdian saya kepada sesama.”

Jaka Pring
“… Nyuwun pangestunipun para sedherek dhumateng pun Djoko Pring.”
“… mohon do’a restunya saudara-saudara untuk si Jaka Pring.”
“Saking Ulun, Djoko Pring.”
“Dari saya, Jaka Pring.”
Selain untuk dijadikan nama, Drs. R.M.P Sosrokartono juga pernah menuliskannya sebagai berikut:

“Pring padha pring
Weruh padha weruh
Eling tanpa nyanding.”
Artinya, “Bambu sama-sama bambu, tahu sama-sama tahu, ingat tanpa mendekat.”
Versi lain berbunyi:

“Susah padha susah; seneng padha seneng; eling padha eling; pring padha pring.”
Artinya, “Susah sama-sama susah; senang sama-sama senang; ingat sama-sama ingat; bambu sama- sama bambu.”

Jaka adalah jejaka/laki-laki yang belum (tidak) menikah dan Pring adalah bambu.
Pohon bambu adalah pohon yang sekujur tubuhnya dapat dimanfaatkan oleh siapa saja yang berkepentingan dengannya. Pohon Bambu dapat dimanfaatkan untuk membuat rumah, mulai dari tiang, atap, dinding, pagar, sampai atap-atapnya. Bukankah orang-orang dahulu menjadikan daun bambu sebagai genteng rumah mereka? Ranting-rantingnya dapat dijadikan kayu bakar atau pagar. Bambu dapat digunakan untuk membuat balai-balai, sangkar, keranjang, tempayan, tembikar, kursi, dll. Cikal bakal dari pohon bambu dapat dimanfaatkan untuk sayur/dimakan. Yang jelas, semuanya dapat dimanfaatkan, semuanya dapat difungsikan atau dibutuhkan sesuai kehendak orang yang bersangkutan.
Satu hal lagi, jenis bambu itu bermacam-macam. Sesuai dengan hajat seseorang dalam memfungsikan bambu, maka ia mempunyai pilihan terhadap jenis bambu yang mana ia butuhkan. Apakah bambu pethung, bambu ori, bambu wuluh, bambu apus dan lain sebagainya.
Kutipan di atas juga mengutarakan bahwa, apapun jenis kita, bangsa kita, agama kita, ras, warna kulit, perbedaan bahasa dan suku kita, kita tetap sama, sama-sama tahu, sama-sama manusia.
Apapun jenis, warna dan bentuknya bambu, tetap bambu. Tak ada perbedaan, semua sama belaka. Manusia yang satu dengan manusia yang lain adalah sama. Seperti ketika beliau melakukan perjalanan ke luar Jawa, kemudian beliau bertemu oleh sekian jenis manusia dengan status sosial yang berbeda. Bagi beliau, semua manusia disejajarkan. Sikap egalitarisme tetap dijaga dan dilestarikan.
Dalam kondisi dan situasi bagaimanapun dan di manapun, ingat akan keterciptaan, teringat akan sesama, saling mengingatkan dan ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa, Yang Maha Pemurah. Ketika manusia itu ingat kepada Tuhannya, maka Tuhanpun akan ingat kepadanya.

Guru Sejati

“Murid, gurune pribadi
Guru, muride pribadi
Pamulangane, sengsarane sesami
Ganjarane, ayu lan arume sesami.”
Artinya, “Murid gurunya diri pribadi. Guru, muridnya diri pribadi. Tempat belajarnya/pelajarannya, penderitaan sesama. Balasannya, kebaikan dan keharuman sesama.”

Untaian itu mengandung pengertian bahwa sesungguhnya dalam diri seseorang terdapat seorang guru dan diri seseorang itu sendiri menjadi murid, murid dari guru sejati.
Sebab, pada intinya, segala bentuk ilmu dan pengetahuan itu hanya datang dari Tuhan, karena guru selain Tuhan itu hanya sebagai perantara belaka.

“Sinau ngarosake lan nyumerepi tunggalipun manungsa, tunggalipun rasa, tunggalipun asal lan maksudipun agesang.”
Artinya, “Perlu belajar ikut merasakan dan mengetahui bahwa manusia itu satu, rasa itu satu, berasal dari tempat yang sama, dan belajar memahami arti dari tujuan hidup.”

“Tansah anglampahi dados muriding agesang.”
Artinya, “Selalu menjalani jadi murid kehidupan/sesama hidup.”
Kehidupan itulah sang guru, karena kehidupan itu juga mengajarkan kepada kita.

Sang Alif

“… Ping kalihipun perlu babat lan ngatur papan kangge masang Alif. (Masang Alif punika inggih kedah mawi sarana lampah. Boten kenging kok lajeng dipun canthelaken kemawon, lajeng dipun tilar kados mepe rasukan).”
Artinya, “Yang keduanya perlu membuka dan mengatur tempat untuk memasang Alif. (Memasang Alif itu harus dengan sarana penghayatan. Tidak boleh hanya dicantolkan begitu saja, lalu ditinggal layaknya menjemur pakaian.)

“Ngawula dateng kawulaning Gusti lan memayu ayuning urip, …”
Maksudnya adalah mengabdi kepada abdinya Tuhan dan memperbaiki keindahan hidup.
Diungkapkan bahwa Drs. R.M.P. Sosrokartono memiliki tiga buah Alif, yaitu :
  1. Sang Alif warna hitam, dengan dasar putih.
  2. Sang Alif warna putih, dengan dasar biru muda.
  3. Sand Alif warna putih, dengan dasar merah.
Ketika melayani dan mengobati orang-orang yang sakit, Drs. R.M.P. Sosrokartono selalu berdiri. Beilau kuat sekali berdiri berjam-jam atau berhari-hari. Setelah mengobati orang-orang sampai pukul 12 malam, Dar-Oes-Salam ditutup. Namun beliau tidak langsung tidur, beliau seringkali bermain catur sampai jam 3, 4 pagi, itupun beliau lakukan sambil berdiri.